
Keputusan Trump menghentikan operasi militer memberi konteks ringan untuk teman yang mengikuti ketegangan AS-Iran.

AS Siap Serbu Iran, Tapi Dihentikan Trump Alur cerita dan fakta utama
Militer Amerika Serikat dikabarkan telah mempersiapkan operasi darat ke Iran pada Mei 2026 untuk merebut uranium yang diperkaya. Rencana ini muncul di tengah ketegangan tinggi antara kedua negara, meski Presiden Donald Trump secara publik menyatakan bahwa AS dan Iran sedang mendekati kesepakatan soal Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Kepala Staf Gabungan AS, Dan Caine, dikabarkan meninggalkan pertemuan NATO di Brussels untuk segera kembali ke markas Komando Pusat di Florida, guna menerima pengarahan mendesak terkait operasi militer tersebut. Langkah ini menunjukkan betapa dekatnya pemerintah AS dengan keputusan untuk melakukan intervensi militer langsung.
Namun, Trump memilih untuk menunda rencana tersebut setelah diberi tahu bahwa operasi itu bisa memicu pembalasan Iran yang jauh lebih besar, memperpanjang konflik dan mengganggu ekonomi global. Trump juga khawatir akan tingginya korban jiwa pasukan AS. Meski tidak ada konfirmasi resmi dari militer, bocoran dari sumber anonim mengungkap betapa rapuhnya situasi geopolitik saat itu.
Fakta
- Militer AS sempat mempersiapkan operasi darat ke Iran untuk merebut uranium yang diperkaya pada Mei 2026.
- Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine tinggalkan pertemuan NATO di Brussels untuk koordinasi darurat di markas Komando Pusat di Florida.
- Presiden Donald Trump menghentikan rencana tersebut setelah diperingatkan soal risiko eskalasi perang dan krisis ekonomi global.
- Trump khawatir operasi akan picu balasan Iran yang lebih besar dan korban jiwa pasukan AS.
- Rencana dibatalkan meski Trump secara publik klaim AS dan Iran sedang mendekati kesepakatan soal Selat Hormuz dan nuklir.
Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial





