Ilustrasi seorang profesional muda Indonesia berdiri di depan gedung perkantoran modern di Swiss, dengan bendera Swiss dan Indonesia berkibar di latar belakang.
Ilustrasi seorang profesional muda Indonesia berdiri di depan gedung perkantoran modern di Swiss, dengan bendera Swiss dan Indonesia berkibar di latar belakang.

Kesempatan kerja di Swiss dengan gaji setara lokal bisa jadi pertimbangan bagi rekan atau teman yang sedang merencanakan karier internasional.

Swiss Buka Pintu untuk Pekerja Muda Indonesia Alur cerita dan fakta utama

Pemerintah Swiss membuka program 'Young Professionals' yang memungkinkan warga negara asing, termasuk WNI, untuk bekerja di negara tersebut selama maksimal 18 bulan. Program ini ditujukan untuk pengembangan karier, sehingga peserta harus bekerja sesuai bidang studi atau profesi yang pernah dipelajari. Gaji yang diberikan mengikuti tarif lokal dan industri setempat, menawarkan pengalaman profesional yang bernilai tinggi.

Untuk bisa mengikuti program ini, pelamar harus telah menyelesaikan pendidikan S1 atau program magang resmi selama dua tahun. Pekerjaan paruh waktu atau wiraswasta tidak termasuk dalam cakupan program. Permohonan harus diajukan melalui otoritas berwenang di negara asal masing-masing.

Indonesia termasuk dalam daftar negara yang mendapat akses ke program ini, bersama dengan 14 negara lain seperti Jepang, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Informasi lebih lanjut mengenai syarat dan prosedur pendaftaran tersedia di situs resmi Sekretariat Negara untuk Migrasi Swiss (SEM).

Fakta

  • Swiss membuka program 'Young Professionals' untuk warga negara asing, termasuk WNI.
  • Peserta bisa bekerja di Swiss hingga 18 bulan dengan gaji sesuai standar lokal.
  • Pelamar harus lulus S1 atau magang resmi dua tahun dan bekerja sesuai bidang studi.
  • Indonesia termasuk dalam daftar 15 negara yang mendapat akses ke program ini.
  • Pendaftaran harus diajukan melalui otoritas berwenang di negara asal.

Eksplainer berita visual Canto. Alat AI dapat membantu proses produksi. Kebijakan editorial